10 1

Militer AS Merilis Temuan Meteor Interstellar yang Bertabrakan Dengan Bumi

Sebuah meteor telah menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk sampai ke planet bumi. Para peneliti ini pun akhirnya menemukan meteor Interstellar pertama yang pernah menabrak bumi, yang didapatkan dari dokumen Komando Luar Angkasa Amerika Serikat yang baru-baru ini dirilis.

Meteor tersebut pun disebut-sebut sebagai jenis batuan luar angkasa yang berasal dari luar tata surya kita, sehingga menjadikannya kejadian yang amat langka.

Dikutip dari sebuah website berita www.willoughbybrewing.com menuliskan bahwa meteor tersebut dikenal dengan sebutan CNEOS 2014-01-08, dan mendarat secara darurat di sepanjang pantai timur laut Papua Nugini, yang mana dekat sekali dengan Indonesia pada tanggal 8 Januari 2014 lalu.

Meteor tersebut bergerak dengan kecepatan tinggi sekitar 45 km/detik relatif terhadap Bumi, dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik saat mengelilingi matahari.

Namun dikarenakan para peneliti tersebut mengukur seberapa cepat meteor tersebut bergerak tepat ketika planet bergerak di saat yang bersamaan, maka 45 km/detik tersebut pun bukanlah kecepatan yang sebenarnya.

Sebaliknya, kecepatan heliosentris didefinisikan sebagai kecepatan meteorit yang relatif terhadap matahari, sehingga menjadi cara yang lebih akurat untuk menentukan orbit suatu objek.

Peneliti Mengemukakan Hitungan Kecepatan Meteor

Temuan ini kemudian mengejutkan Amir Siraj yang telah lama mengidentifikasi objek tersebut sebagai meteor interstellar, yang mana telah ia publikasikan dalam sebuah studi di tahun 2019 lalu.

Siraj sendiri pernah menyelidiki Oumuamua, sebuah objek interstellar pertama yang diketahui ada di tata surya kita yang ditemukan pada tahun 2017 bersama sang profesor sains di Universitas Harvard, Abraham Loeb.

Dikarenakan meteor tersebut menghantam planet Bumi dari belakang, maka Siraj mengemukakan bahwa meteor tersebut sebenarnya bergerak bukan pada 45 km/detik, melainkan mencapai 60 km/detik yang relatif terhadap matahari.

Siraj kemudian memetakan lintasan meteor dan menemukan bahwa batu besar tersebut berada di orbit yang tak terikat. Artinya, bukannya mengitari matahari seperti meteor lainnya, melainkan datang dari luar tata surya kita.

“Diduga itu dihasilkan oleh bintang lain, dikeluarkan dari sistem planet bintangnya dan secara kebetulan menuju tata surya kita, yang kemudian bertabrakan dengan Bumi,” tambahnya.